Mengenal Kurikulum Cinta: Benarkah Hanya untuk Madrasah? Ini Penjelasan Lengkapnya!

 Dunia pendidikan Indonesia belakangan ini dihebohkan dengan istilah "Kurikulum Cinta". Banyak yang bertanya-tanya, apakah ini kurikulum baru yang menggantikan Kurikulum Merdeka? Atau jangan-jangan ini hanya berlaku di bawah naungan Kementerian Agama (Kemenag) saja?

Sebagai pendidik atau orang tua, memahami konsep ini sangat penting karena berkaitan langsung dengan kenyamanan anak saat belajar di sekolah maupun di rumah.

Apa Itu Kurikulum Cinta?

Sebenarnya, Kurikulum Cinta bukanlah sebuah buku teks baru, melainkan sebuah paradigma atau metode pendekatan. Konsep ini menekankan bahwa proses belajar-mengajar harus dilandasi oleh kasih sayang, empati, dan hubungan emosional yang kuat antara guru dan murid.

Di lingkungan Madrasah (Kemenag), ini menjadi program penguatan karakter agar siswa memiliki akhlak mulia dan moderasi beragama. Namun, secara substansi, roh dari Kurikulum Cinta ini juga sangat kental terasa di Kurikulum Merdeka milik Kemendikbud.

Bedanya di Kemenag vs Sekolah Umum

Meskipun tujuannya sama, yaitu membentuk karakter siswa, ada sedikit perbedaan fokus dalam implementasinya:

 1. Di Kemenag (Madrasah): Lebih menonjolkan sisi spiritual. Guru diajarkan untuk mendidik dengan hati (ikhlas), menganggap siswa sebagai anak sendiri, dan menanamkan nilai agama dengan cara yang menyejukkan, bukan menakutkan.

2. Di Kemendikbud (Sekolah Umum): Diintegrasikan melalui Profil Pelajar Pancasila. Fokusnya adalah menciptakan lingkungan sekolah yang aman, menyenangkan, dan bebas dari perundungan (bullying). Di sini, "Cinta" diwujudkan dalam bentuk apresiasi terhadap bakat unik setiap murid. 

Empat Pilar Utama Kurikulum Cinta yang Bisa Diterapkan di Rumah

Konsep ini tidak hanya untuk di kelas ya kakak! Orang tua juga bisa menerapkannya agar anak makin semangat belajar:

1. Penerimaan Tanpa Syarat 
           Mencintai anak bukan karena nilai ujiannya bagus, tapi karena mereka adalah pribadi yang berharga. Ini membuat mental anak stabil saat menghadapi ujian. Pilar ini adalah jantung dari Kurikulum Cinta. Seringkali, anak merasa hanya disayangi jika mereka mendapat nilai 100 atau ketika menang lomba.

Dalam arti singkat : Mencintai anak tanpa syarat berarti memisahkan antara perilaku anak dan harga diri anak. Jika anak gagal dalam ujian, orang tua tetap merangkul mereka dan berkata, "Ayah/Ibu tetap sayang kamu, nilai ini tidak mengubah siapa kamu di mata kami." 

Dampaknya: Mental anak menjadi stabil. Mereka tidak takut mencoba hal baru atau mengakui kegagalan karena tahu "rumah" mereka adalah tempat yang aman, bukan tempat yang penuh tuntutan.

2. Dialog yang Setara
           Guru atau orang tua bukan lagi sosok "penguasa", melainkan teman diskusi. Anak yang merasa didengarkan akan lebih terbuka terhadap ilmu baru. Zaman sudah berubah, Kakak! Pendekatan satu arah ("Pokoknya nurut!") sudah tidak efektif lagi untuk anak zaman sekarang (Gen Alpha).

Maksudnya : Orang tua memosisikan diri sebagai fasilitator atau teman diskusi. Artinya, suara anak didengarkan, pendapatnya dihargai, dan setiap aturan rumah didiskusikan bersama, bukan dipaksakan.

Dampaknya: Anak merasa memiliki power dan tanggung jawab. Saat anak merasa didengarkan, otak mereka akan berada dalam kondisi rileks, sehingga pintu masuk untuk ilmu-ilmu baru menjadi jauh lebih terbuka.

3. Apresiasi Proses, Bukan Hasil
        Memberi pujian pada usaha keras anak (proses) jauh lebih efektif daripada hanya memuji nilai angka (hasil).Budaya kita terlalu fokus pada angka di rapor. Maka Kurikulum Cinta mencoba membalikkan paradigma ini.

Lebih Singkatnya: Fokuslah pada usaha kerasnya (kerja kerasnya, bangun paginya, ketekunannya mencatat). Jika anak belajar sampai larut malam tapi nilainya tetap kecil, yang dipuji adalah usahanya. Katakan, "Ibu bangga lihat kamu rajin belajar seminggu ini, itu jauh lebih berharga daripada sekadar angka."


Dampaknya: Anak akan memiliki Growth Mindset (pola pikir berkembang). Mereka tidak akan mudah menyerah saat menghadapi kesulitan karena mereka menghargai proses perjuangan, bukan hanya mengejar hasil instan.

4. Sebuah Keteladanan: Cinta dalam pendidikan berarti memberikan contoh nyata. Jika ingin anak rajin membaca, maka pendidik harus memberikan contoh gemar membaca.

jadi jika ibu-ibu di rumah bisa memulai dengan hal kecil, tidak perlu muluk-muluk membeli buku-buku dengan koleksi segudang layaknya rumah perpus! cukup ajak anak-anak untuk terbiasa memegang buku bacaan, cerita, majalah atau bacaan ringan lainya, lambat laun mereka akan terbiasa dengan sendirinya. 

Kesimpulan: Milik Siapa?

Jadi, jawabannya adalah: Kurikulum Cinta milik semua orang. Meskipun branding resminya sering diasosiasikan dengan Kemenag, namun secara prinsip, semua institusi pendidikan di bawah Kementerian Pendidikan secara umum sudah mulai mengadopsi nilai-nilai ini demi menciptakan generasi emas 2045 yang cerdas secara otak dan lembut secara hati.

Subkhi Maulana

Haloo!! Dukung terus Postingan Artikel kami, Shere jika bermanfaat untuk anda, Dukungan Dan Support sangatlah dibutuhkan demi Perbaikan Artikel Kami.Trimakasih!

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama