Dunia pendidikan Indonesia belakangan ini dihebohkan dengan istilah "Kurikulum Cinta". Banyak yang bertanya-tanya, apakah ini kurikulum baru yang menggantikan Kurikulum Merdeka? Atau jangan-jangan ini hanya berlaku di bawah naungan Kementerian Agama (Kemenag) saja?
Sebagai pendidik atau orang tua, memahami konsep ini sangat penting karena berkaitan langsung dengan kenyamanan anak saat belajar di sekolah maupun di rumah.
Apa Itu Kurikulum Cinta?
Sebenarnya, Kurikulum Cinta bukanlah sebuah buku teks baru, melainkan sebuah paradigma atau metode pendekatan. Konsep ini menekankan bahwa proses belajar-mengajar harus dilandasi oleh kasih sayang, empati, dan hubungan emosional yang kuat antara guru dan murid.
Di lingkungan Madrasah (Kemenag), ini menjadi program penguatan karakter agar siswa memiliki akhlak mulia dan moderasi beragama. Namun, secara substansi, roh dari Kurikulum Cinta ini juga sangat kental terasa di Kurikulum Merdeka milik Kemendikbud.
Bedanya di Kemenag vs Sekolah Umum
Meskipun tujuannya sama, yaitu membentuk karakter siswa, ada sedikit perbedaan fokus dalam implementasinya:
1. Di Kemenag (Madrasah): Lebih menonjolkan sisi spiritual. Guru diajarkan untuk mendidik dengan hati (ikhlas), menganggap siswa sebagai anak sendiri, dan menanamkan nilai agama dengan cara yang menyejukkan, bukan menakutkan.
2. Di Kemendikbud (Sekolah Umum): Diintegrasikan melalui Profil Pelajar Pancasila. Fokusnya adalah menciptakan lingkungan sekolah yang aman, menyenangkan, dan bebas dari perundungan (bullying). Di sini, "Cinta" diwujudkan dalam bentuk apresiasi terhadap bakat unik setiap murid.
Empat Pilar Utama Kurikulum Cinta yang Bisa Diterapkan di Rumah
Konsep ini tidak hanya untuk di kelas ya kakak! Orang tua juga bisa menerapkannya agar anak makin semangat belajar:
1. Penerimaan Tanpa SyaratDampaknya: Anak merasa memiliki power dan tanggung jawab. Saat anak merasa didengarkan, otak mereka akan berada dalam kondisi rileks, sehingga pintu masuk untuk ilmu-ilmu baru menjadi jauh lebih terbuka.
3. Apresiasi Proses, Bukan Hasil
Dampaknya: Anak akan memiliki Growth Mindset (pola pikir berkembang). Mereka tidak akan mudah menyerah saat menghadapi kesulitan karena mereka menghargai proses perjuangan, bukan hanya mengejar hasil instan.
4. Sebuah Keteladanan: Cinta dalam pendidikan berarti memberikan contoh nyata. Jika ingin anak rajin membaca, maka pendidik harus memberikan contoh gemar membaca.
Jadi, jawabannya adalah: Kurikulum Cinta milik semua orang. Meskipun branding resminya sering diasosiasikan dengan Kemenag, namun secara prinsip, semua institusi pendidikan di bawah Kementerian Pendidikan secara umum sudah mulai mengadopsi nilai-nilai ini demi menciptakan generasi emas 2045 yang cerdas secara otak dan lembut secara hati.

